Tuesday, May 16, 2017

Tanaman hias | Penggolongan Tanaman Hias | Fungsi Tanaman Hias di Taman | Habitat

Tanaman hias di lingkungan sekitar sangat beragam. Untuk mempermudah dalam pengenalan, perlu dilakukan penggolongan pada tanaman hias. Masing-masing golongan tanaman hias tersebut memiliki habitat yang berbeda-beda. Mengenal penggolongan dan habitatnya akan memudahkan dalam perawatan tanaman hias tersebut.

Penggolongan Tanaman Hias 


Berdasarkan struktur dan bentuk-nya, tanaman hias digolongkan menjadi tanaman pohon, herba, semak, sukulen, perdu, dan liana. Struktur tanaman ini akan mempengaruhi fungsi tanaman pada saat digunakan sebagai tanaman hias.

1. Tanaman pohon

Tanaman pohon adalah jenis tanaman berkayu yang biasanya mempunyai batang tunggal dan dicirikan dengan pertumbuhan yang sangat tinggi. Tanaman berkayu adalah tanaman yang membentuk batang sekunder dan jaringan xylem yang banyak. 8iasanya, tanaman pohon digunakan sebagai tanaman pelindung dan centre point. Selain itu, ada juga tanaman pohon yang bisa digunakan sebagai tanaman hias pot, tetapi jenisnya sangat terbatas. Flamboyan dan dadap merah termasuk jenis tanaman pohon.

2. Tanaman liana dan herba

Tanaman golongan liana lebih banyak digunakan untuk tanaman rambat atau tanaman gantung. Liana dicirikan dengan batang yang tidak berkayu dan tidak cukup kuat untuk menopang bagian tanaman lainnya. Alamanda termasuk dalam golongan tanaman liana. Golongan herba (herbaceous) atau terna merupakan jenis tanaman dengan sedikit jaringan sekunder atau tidak sama sekali. Kana dan tapak darah termasuk dalam golongan tanaman herba.

3. Tanaman perdu

Tanaman golongan perdu merupakan tanaman berkayu yang pendek dengan batang yang cukup kaku dan kuat untuk menopang bagian-bagian tanaman. Golongan perdu biasanya dibagi menjadi tiga, yaitu perdu rendah, perdu sedang, dan perdu tinggi. Bunga sikat botol, krossandra, dan euphorbia termasuk dalam golongan tanaman perdu.

4. Tanaman semak

Tanaman golongan semak dicirikan dengan batang yang berukuran sama dan sederajat. Bambu hias termasuk dalam golongan tanaman ini.

5. Tanaman sukulen

Tanaman sukulen adalah jenis tanaman 'lunak'yang tidak berkayu dengan batang dan daun yang mampu menyimpan cadangan air dan tahan terhadap kondisi yang kering. Kaktus termasuk dalam golongan tanaman sukulen.


Fungsi Tanaman Hias di Taman


Tanaman hias merupakan elemen taman yang bersifat lunak. Dalam landskap, tanaman hias memiliki fungsi yang berbeda-beda, yaitu tanaman pelindung, penghias taman, center point, bedengan, dan penutup tanah.

1. Tanaman pelindung

Tanaman yang digolongkan sebagai tanaman pelindung adalah jenis tanaman pohon yang banyak digunakan untuk pelindung di tepi jalan ataupun di taman-taman.Tanaman pelindung ini biasanya berfungsi untuk melindungi tanaman agar sinar matahari tidak langsung mengenainya sehingga akan memberikan efek teduh.

2. Penghias taman

Sebenarnya hampir semua tanaman dapat digunakan untuk penghias taman. Namun dalam buku ini, fungsi sebagai penghias taman dibatasi hanya untuk tanaman-tanaman yang secara umum digunakan untuk penghias taman rumah, penghias pekarangan, maupun penghias tepi jalan. Tanaman-tanaman bunga yang sering digunakan sebagai penutup tanah di taman.

Habitat

Tanaman hias bunga memiliki habitat yang berbeda satu sama lain. Secara umum, habitat tanaman hias dicirikan dengan perbedaannya akan lingkungan hidup yang mencakup ketinggian tempat dari permukaan air laut, kebutuhan air, dan kebutuhan cahaya.

1. Ketinggian tempat

Biasanya, faktor ketinggian tempat lebih dikenal dengan faktor suhu. Namun, oleh karena kondisi suhu di beberapa daerah di negara kita relatif sama maka dalam buku ini lebih ditekankan pada ketinggian tempat di atas permukaan air laut. Sebagai negara yang berada di daerah khatulistiwa, keragaman iklim di masing-masing daerah relatif sedikit. Perbedaan suhu di sini lebih banyak dipengaruhi oleh ketinggian tempat, yaitu dataran tinggi dan dataran rendah.

Suhu udara di dataran tinggi relatif dingin sehingga beberapa tanaman subtropis dapat dibudidayakan dengan baik. Sementara suhu udara di dataran rendah relatif panas sehingga tidak banyak tanaman yang berasal dari daerah subtropis bisa dibudidayakan dengan baik. Biasanya, tanaman subtropis akan menghasilkan bunga lebih banyak, ukuran yang lebih besar, dan warna yang lebih cerah jika ditanam di dataran tinggi. Namun, hasil yang sebaliknya akan diperoleh jika tanaman tersebut ditanam di dataran rendah. Bahkan, untuk tanaman hias bunga tidak akan menghasilkan bunga jika berada di dataran rendah.

Berdasarkan ketinggian tempat, tanaman hias dikelompokkan menjadi tiga, yaitu tanaman hias dataran tinggi, dataran rendah, dan dataran sedang. Sebagai acuan, suatu daerah dikatakan sebagai dataran tinggi jika berada pada ketinggian 700 m di atas permukaan air laut (dpi). Dataran rendah berada pada ketinggian < 200 m dpi. Daerah yang berada pada kisaran ketinggian 200—700 m dpi merupakan daerah dataran sedang.

2. Kebutuhan air

Air merupakan salah satu kebutuhan utama tanaman. Tanpa air tanaman tidak akan dapat mengolah bahan makanannya sehingga akan layu, kemudian mati. Tanaman yang mengalami kelayuan harus segera diberi air agar dapat segar kembali.

Jika tidak, kondisi tersebut dapat menyebabkan kelayuan permanen yang akhirnya akan membuat tanaman mati. Kebutuhan air untuk setiap tanaman sangat beragam, tergantung pada jenis tanaman, fase pertumbuhan, ukuran tanaman, ukuran pot (jika tanaman ditanam dalam pot), kondisi media tanam, kondisi akar, pencahayaan, serta suhu dan kelembapan lingkungan.

Jenis tanaman sukulen atau kaktus-kaktusan membutuhkan air yang sedikit untuk dapat tumbuh dengan baik, sedangkan jenis tanaman air justru membutuhkan keadaan jenuh air untuk dapat tumbuh dengan baik. Pada umumnya, kebutuhan air pada tanaman hias bunga berada di antara kedua jenis tanaman tersebut.

Selain jenis, umur dan ukuran tanaman juga sangat berpengaruh terhadap kebutuhan air. Tanaman yang lebih tua dan berukuran lebih besar membutuhkan air lebih banyak daripada tanaman yang masih muda dan kecil. Faktor lingkungan juga mempengaruhi kebutuhan tanaman akan air, di antaranya tempat tumbuh tanaman. Kebutuhan air pada tanaman yang tumbuh di dalam pot jauh lebih tinggi dibandingkan tanaman yang ditanam langsung di tanah. Peletakan tanaman juga mempengaruhi kebutuhan air. Tanaman yang diletakkan di dalam ruangan ber-AC membutuhkan air lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman yang diletakkan di ruangan tanpa AC.

3. Kebutuhan cahaya

Berdasarkan kebutuhan cahaya, tanaman dapat dikelompokkan menjadi jenis tanaman yang toleran terhadap sinar matahari langsung dan yang tidak toleran terhadap sinar matahari langsung (membutuhkan naungan). Namun, ada pula tanaman yang dapat tumbuh baik di tempat yang terkena cahaya langsung maupun yang ternaungi. 

Tanaman yang toleran terhadap sinar matahari sebaiknya ditempatkan di tempat-tempat yang terkena sinar matahari secara penuh sehingga dapat tumbuh secara optimal. Sementara tanaman yang toleran terhadap naungan sebaiknya diletakkan di tempat yang teduh atau tidak terkena sinar matahari, contohnya di bawah pohon, diberi naungan paranet, atau bisa juga di teras rumah. Jika tidak terdapat naungan, tanaman jenis ini juga bisa diletakkan di tempat-tempat yang hanya terkena sinar matahari pagi atau sore saja.

Untuk mempermudah dalam pemahaman, habitat tanaman hias bunga disajikan dalam bentuk lambang. Lambang tersebut lihat Tabel  berikut ini.
Readmore → Tanaman hias | Penggolongan Tanaman Hias | Fungsi Tanaman Hias di Taman | Habitat

Bagian bunga yang paling menarik

Karakteristik Bunga


Bagian bunga yang paling menarik dan banyak diperhatikan adalah perhiasan bunga. Perhiasan bunga ini memiliki warna dan bentuk yang bermacam-macam.Terkadang, perhiasan bunga ini juga disertai dengan aroma yang harum. Fungsi utama dari perhiasan bunga adalah untuk menarik serangga/hewan lain agar mendekati bunga. Serangga ini akan membantu bunga dalam melakukan proses penyerbukan.

Hasil proses penyerbukan ini berupa terbentuknya buah dan biji yang akan mempertahankan keberadaan generasi baru tanaman tersebut.

Dalam industri bunga, bagian perhiasan bunga digunakan untuk menarik konsumen. Ketika melihat bentuk dan warna bunga yang beragam, konsumen akan tertarik, kemudian membelinya. Untuk menambah keragaman bentuk dan warnanya, saat ini banyak petani/hobiis bunga yang melakukan penyerbukan silang pada bunga. Selain itu, penyilangan juga bertujuan untuk menghasilkan varietas baru yang indah dan menarik. Umum-nya, penyilangan ini dilakukan pada jenis tanaman bunga yang keberadaan-nya di pasaran masih jarang.
Bunga Lolipop. Sebenarnya, warna merah yang menyerupai bunga merupakan kelopak daun, sedangkan bunga aslinya berukuran kecil dan berada di sela-selanya.
Bunga Lolipop. Sebenarnya, warna merah yang menyerupai bunga merupakan kelopak daun, sedangkan bunga aslinya berukuran kecil dan berada di sela-selanya.

Tidak semua yang terlihat indah itu termasuk dalam golongan bunga.


Ada beberapa jenis tanaman hias yang dikira sebagai bunga, tetapi sebenarnya adalah daun. Bunganya sendiri mempunyai bentuk yang sederhana dan tidak terlalu menarik. Contohnya adalah bunga nusa indah (Mussaenda erythropilla), lolipop (Pachystachys lutea), bugenvil (Bougainvillea spectabilis), dan brazilian plume flower (Jacobinia cornea). Meskipun tanaman-tanaman tersebut sebenarnya 'berdaun indah' tetapi masyarakat lebih mengenalnya sebagai tanaman hias bunga sehingga dalam buku ini dimasukkan ke dalam kategori tanaman hias berbunga indah.
Readmore → Bagian bunga yang paling menarik

Bunga simetri tunggal | Bertaji (calcareus) | Pita (ligulate) Bunga majemuk | Posisi antarbagian bunga | Metamorfosis bunga | Metamorfosis benang sari |

Bunga simetri tunggal


Berikut beberapa bentuk bunga simetri tunggal.


Salah satu mahkota dari bunga ini mengalami metamorfosis bibir posterior. Kemangi (Ocimum basilicum) memiliki bentuk yang berbibir.

Kupu-kupu (papilonaceus) 

Bunga ini memiliki lima daun mahkota, yaitu satu di bagian anterior menjadi bendera (vexillum), dua di bagian lateral menjadi sayap [alae), dan dua di bagian posterior berlekatan membentuk lunas (carina), misalnya bunga kacang hias (Arachis pintoi).

Kedok atau topeng (personate) Bunga ini mirip dengan bunga berbibir, tetapi bibir posterior lebih besar daripada bibir anterior, misalnya bunga mulut singa (Anthirrinum majus).

Pita (ligulate)

Bagian leher mahkota pada bunga ini berlekatan membentuk pipa, ujungnya memiliki 1,2, 3; atau 5 cuping mahkota, misalnya bunga di bagian tepi bunga matahari (Helianthus annuus).


Bunga majemuk digolongkan menjadi dua, yaitu bunga majemuk terbatas dan bunga majemuk tidak terbatas. Bunga majemuk terbatas

ditandai dengan arah mekarnya bunga, dimulai dari arah ujung ke pangkal atau dari dalam karangan ke luar. Pada ujung karangan, terdapat bunga tertua sehingga pertumbuhan aksis berhenti, disebut juga dengan istilah inflorentia cymosa. Contoh bunga majemuk terbatas adalah bunga melati (Jasminum sambac).

Bunga majemuk tidak terbatas ditandai dengan arah mekar bunga dari pangkal karangan bunga ke ujung atau dari pinggir karangan ke tengah. Dalam waktu tertentu, selalu tumbuh kuncup bunga baru dan ujung aksis bunga tumbuh secara kontinu. Hal ini disebut dengan istilah inflorescentia racemosa. Contoh bunga majemuk jenis ini adalah kembang merak (Caesalpinia pulcherima).

Posisi antarbagian bunga

Berdasarkan posisi antarbagian  kelopak. mahkota, benangsari, dan putik bunga digolongkan dalam 3 pola pembagian tempat, yaitu sebagai berikut.

Terpencar (tersebar, spiralis, acydis); contohnya susunan bunga cempaka (Michelia champaca).
Berkarang atau melingkar (cydis); jika kelopak, mahkota. benang sari dan putik berada dalam lingkaran tersendiri.

Campuran (hemicydis); jika kelopak dan mahkota berada dalam lingkaran, sedangkan benang sari dan putik berada dalam spiral.

Metamorfosis bunga

Bagian-bagian bunga dapat mengalami perubahan bentuk atau fungsi yang dikenal dengan istilah metamorfosis. Metamorfosis yang terjadi pada bunga yaitu metamorfosis daun mahkota dan metamorfosis benang sari.
Bunga Merak. Daun mahkotanya mengalami metamorfosis menjadi tabung mahkota
Bunga Merak. Daun mahkotanya mengalami metamorfosis menjadi tabung mahkota

Metamorfosis daun mahkota Daun mahkota dapat mengalami perubahan bentuk dan fungsi sebagai berikut.
  1. Bibir-bibiran (labellum); merupakan daun mahkota yang mengalami perubahan bentuk menjadi bentuk bibir. Fungsinya untuk menarik serangga polinator. Contohnya bibir-bibiran pada bunga anggrek (Orchidaceae).
  2. Tabung mahkota (corolla tube); merupakan bentuk alih fungsi satu daun mahkota yang berfungsi sebagai penarik serangga dengan kelenjar madu di dalamnya. Daun mahkota ini berubah bentuk menjadi bentuk tabung. Misalnya pada bunga merak (Caesalpinia pulcherima).
  3. Taji (calcareus); merupakan alih fungsi dari satu daun mahkota. Pada bunga pacar air (Impatiens balsamina), mahkota bunga berfungsi untuk menarik serangga polinator karena berisi kelenjar madu.
  4. Mahkota kupu-kupu (papilonaceus) yaitu perubahan bentuk mahkota bunga pada suku tumbuhan Papilonaceae (Leguminosae). Dari lima daun mahkota, satu di anterior membesar disebut bendera (vexillum), dua di lateral membentuk sayap (alae), dan dua di posterior membentuk lunas (carina) yang membungkus alat kelamin bunga. Contohnya pada bunga orok-orok (Crotalaria striata).
  5. Mahkota berbibir (labiate) yaitu mahkota yang daun mahkotanya mengelompok menjadi dua bagian. Biasanya, di bagian anterior terdapat tiga daun mahkota yang disebit bibir atas. Di bagian posterior, biasanya terdapat dua daun mahkota yang disebut bibir bawah. Perubahan bibir atas lebih besar dari bibir bawah, yang dijumpai pada semua spesies anggota suku Lamiaceae. Bibir atas sama dengan bibir bawah yang dijumpai pada semua suku Verbenaceae. Bibir atas lebih kecil dari bibir bawah dan dijumpai pada bunga Anthirrinum majus.
Bunga pisang hias. Benang sarinya mengalami metamorfosis menjadi kelenjar madu
Bunga pisang hias. Benang sarinya mengalami metamorfosis menjadi kelenjar madu


Metamorfosis benang sari 

Benang sari dapat mengalami perubahan bentuk dan fungsi. yaitu sebagai berikut.
  1. Bibir-bibiran (labellum); yaitu perubahan lima dari enam benang sari yang sesungguhnya dan terjadi pada anggota suku Zingiberaceae. Lima benang sari ini menjadi penarik serangga polinator, sedangkan satu benang sari lainnya membesar menjadi satu benang sari tunggal yang fertil.
  2. Kelenjar madu (nectarium); yaitu perubahan fungsi satu benang sari dari enam benang sari yang sesungguhnya menjadi kelenjar madu.Tujuannya untuk mengundang serangga polinator. Contohnya pada bunga pisang (Musa sp.).
  3. Polinia (pollen wax); merupakan persatuan serbuk sari (pollen) menjadi bahan seperti lilin, misalnya polinia dari semua jenis suku tumbuhan anggrek.
  4. Benang sari steril (staminodia); yaitu benang sari yang memiliki serbuk sari yang steril, biasanya memiliki bentuk dan warna yang berbeda dengan benang sari fertil, misalnya staminodia senggani (Melastoma affinis). Benang sari pada bunga tasbih (Canna sp. hybrida) bersifat sebagai staminodia berbentuk lembaran (tangkai sari) dan terdapat dalam satu lembaran yang masih mendukung kepala sari (fertil).
  5. Cincin (annulus); yaitu reduksi benang sari yang tangkai sarinya berkembang menjadi cincin pada bunga betina kelapa (Cocos nucifera).
Bunga tasbih. Salah satu jenis tanaman hias yang memiliki benang sari steril.
Bunga tasbih. Salah satu jenis tanaman hias yang memiliki benang sari steril.
Readmore → Bunga simetri tunggal | Bertaji (calcareus) | Pita (ligulate) Bunga majemuk | Posisi antarbagian bunga | Metamorfosis bunga | Metamorfosis benang sari |

Kesempurnaan bunga | Bentuk mahkota bunga | Bunga simetri beraturan | Bintang (rotate, stalate) | Tabung (tubuler) | Terompet (hypocrateryform) | Mangkuk (urceolate) | Corong (infundibuliform)

Kesempurnaan bunga

Berdasarkan kesempurnaannya. bunga dibedakan menjadi bunga sempurna (perfect flower) dan bunga tidak sempurna (inperfect flower).

Bunga disebut sempurna bila memiliki benang sari dan putik. Sementara bunga yang tidak sempurna hanya memiliki satu kelamin, yaitu bunga jantan saja (staminate flower) atau hanya bunga betina (pistilate flower).


Berdasarkan bentuk mahkotanya, bunga dikelompokkan menjadi dua, yaitu bunga bersimetri beraturan (regular, actinomorf) dan bunga bersimetri tunggal (monosimetri, zigomorf).

Bunga simetri beraturan

Berikut bentuk-bentuk bunga yang tergolong dalam bunga bersimetri beraturan. 
Anggrek, salah satu jenis bunga yang bentuknya menyerupai bintang
Anggrek, salah satu jenis bunga yang bentuknya menyerupai bintang
Bintang (rotate, stalate)

Daun mahkota berlekatan dan cuping bebas pada posisi mendatar sehingga proyeksi tegaknya mirip dengan bintang. Beberapa jenis anggrek memiliki bentuk bunga seperti bintang, misalnya Centrum sp.

Tabung (tubuler)

Mahkota daun berlekatan dan memiliki tabung mahkota di pangkal. Mangkuk mahkota berada di ujung, dimana tabung mahkota lebih dominan dibanding mangkuk mahkota. Selain itu, cuping mahkota juga berukuran relatif kecil. Contohnya bunga matahari (Helianthus annuus).
Bunga matahari. Bentuk bunganya menyerupai tabung
Bunga matahari. Bentuk bunganya menyerupai tabung

Terompet (hypocrateryform) 

Bunga terompet memiliki mahkota daun yang berlekatan, tabung mahkota berada di pangkal, dan mangkuk mahkota berada di ujung. Tabung mahkota lebih panjang dibanding mangkuk mahkota. Sementara cuping mahkota berukuran sedang. Stephanotis floribunda memiliki bentuk bunga yang menyerupai terompet.

Kecubung. Bentuk bunganya menyerupai corong
Kecubung. Bentuk bunganya menyerupai corong
Mangkuk (urceolate)

Bunga mangkuk memiliki mahkota daun berlekatan, tabung mahkota berada di pangkal, dan mangkuk mahkota berada di ujung. Ukuran mangkuk mahkota sangat dominan dibandingkan tabung mahkota.

Corong (infundibuliform)

Bunga corong memiliki mahkota daun berlekatan dan hanya memiliki tabung mahkota. Dari pangkal ke ujung, dengan ukuran tabung mahkota semakin membesar. Mahkotanya pun ikut membesar. Contohnya bunga kecubung (Brugmansia versicolor). 

Lonceng/bel (campanulate) Bunga lonceng memiliki mahkota daun yang berlekatan dan hanya memiliki tabung mahkota. Dari pangkal ke ujung, ukurannya semakin membesar. Ukuran mahkotanya sedang dan panjang. Contohnya bunga Ipomoea.


Ipomea. Salah satu jenis bunga yang bentuknya mirip lonceng
Ipomea. Salah satu jenis bunga yang bentuknya mirip lonceng

Readmore → Kesempurnaan bunga | Bentuk mahkota bunga | Bunga simetri beraturan | Bintang (rotate, stalate) | Tabung (tubuler) | Terompet (hypocrateryform) | Mangkuk (urceolate) | Corong (infundibuliform)

Bagian-bagian dan Penggolongan Bunga | Morfologi Bunga

Mengenal Bagian-bagian dan Penggolongan Bunga


Kalau di tinjau secara umum, tanaman hias dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu tanaman hias daun dan tanaman hias bunga. Tanaman hias daun yaitu jenis tanaman hias yang memiliki bentuk dan warna daun yang unik. Sementara daya tarik tanaman hias bunga terletak pada bentuk, warna, dan aroma bunganya.

Morfologi Bunga

Sebenarnya, bunga merupakan alat reproduksi seksual pada tumbuhan. Bunga merupakan bagian tanaman yang menunjukkan variasi besar dalam struktur, susunan, dan ukurannya.


Yang merupakan bagian penting pada bunga terdiri dari bagian steril dan bagian fertil. Bagian steril terdiri dari tangkai bunga, dasar bunga (receptacle), daun pelindung (brachtea), dan perhiasan bunga (perianthium). Lebih jauh, perhiasan bunga ini terdiri dari daun kelopak (sepal) dan daun mahkota (petal). Sementara bagian yang fertil terdiri dari benang sari (stamen) dan putik (pistil). Bagian-bagian bunga secara detail disajikan pada llustrasi dibawah.

 Bagian-bagian Bunga


Tangkai bunga merupakan bagian aksis utama pada bunga tunggal, misalnya bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis). Sementara pada bunga majemuk, tangkai bunga merupakan terminalisasi sistem percabangan bunga, misalnya pada bunga jati (tectona grandis).

Dasar bunga adalah ujung percabangan yang mengalami metamorfosis, pertumbuhannya terhenti, serta merupakan tempat tumbuhnya perhiasan dan kelamin bunga. Daun pelindung adalah bagian perhiasan bunga yang berfungsi untuk melindungi bunga pada saat masih kuncup.

Kelopak bunga (calyx) tersusun atas daun kelopak (sepal). Pada waktu muda (kuncup), kelopak bunga ini merupakan pelindung bagian bunga yang lain. Biasanya, bentuk kelopak bunga menyerupai daun yang berwarna hijau, kecil, dan berada di bawah petal.

Mahkota bunga (corolla) berada di sebelah dalam kelopak dan tersusun atas daun mahkota (petal). Ukuran mahkota bunga dapat lebih kecil, lebih besar, atau sama dengan daun kelopak. Warnanya bermacam-macam karena mengandung antosian. Aroma dan warna mahkota bunga ini dapat menjadi daya tarik terhadap serangga penyerbuk.

Stamen merupakan struktur reproduktif jantan, tersusun atas anther yang mengandung tepung sari dan didukung oleh benang sari (filament). Tepung sari dewasa akan dikeluarkan lewat dinding pori atau dinding anther yang pecah. Pada dasar stamen, biasanya terdapat kelenjar nektari yang menghasilkan bahan kental dan bergula. Kadang-kandang, kelenjar nektari juga menghasilkan parfum.

Pistil adalah struktur reproduksi betina. Umumnya, pistil memiliki bakal buah (ovarium), tangkai putik (stylus), dan kepala putik (stigma).


Penggolongan bunga pada tanaman hias bisa dilakukan berdasarkan beberapa kriteria, di antaranya posisi munculnya bunga, jumlah bunga pada tanaman, kelengkapan bagian-bagian bunga, kesempurnaan bunga, bentuk mahkota bunga, bunga majemuk, dan posisi antarbagian bunga.

Posisi munculnya bunga Berdasarkan posisi munculnya, bunga dapat digolongkan menjadi dua, yaitu bunga yang muncul di ujung batang atau cabang (terminalis) dan bunga yang muncul di ketiak daun (axillaris atau lateralis).
Jumlah bunga pada tanaman Berdasarkan jumlah bunganya yang ada pada tanaman, tanaman hias bunga dikelompokkan dalam 2 golongan, yaitu tanaman bunga tunggal (planta uniflora). dan tanaman bunga banyak (planta multiflora). Bunga pada tanaman hias banyak yang terbentuk dalam sebuah karangan, disebut dengan bunga majemuk (anthotaxis atau inflorescentia).
Kelengkapan bagian-bagian bunga Berdasarkan kelengkapan bagian-bagiannya, bunga dapat dibedakan menjadi bunga lengkap (complete flower) dan bunga tidak lengkap (inccomplete flower). Disebut bunga lengkap jika memiliki daun kelopak dan daun mahkota. Sementara bunga digolongkan dalam bunga tidak lengkap bila tidak memiliki salah satu di antara bagian-bagian tersebut.
Readmore → Bagian-bagian dan Penggolongan Bunga | Morfologi Bunga

Wednesday, April 5, 2017

Memaksimalkan Budidaya Nila, Perkembangan Teknologi Nila

Memaksimalkan Budi Daya Nila 


Dalam budi daya nila, ada teknik atau jurus yang dapat diaplikasikan sehingga pertumbuhannya lebih optimal dan hasil panen yang diperoleh bisa maksimal. Dengan demikian keuntungan yang diperolehpun akan menjadi lebih banyak.

Ikan nila sudah tidak asing lagi terdengar oleh masyarakat indonesia umumnya. Bahkan, ikan yang memiliki kerabat dengan mujair ini sudah dikenal semenjak puluhan tahun yang silam. Sejalan dengan perputaran waktu,  peningkatan mutu genetiknya juga sudah banyak dilakukan. Pada mulanya, nila diperkenalkan dengan nama "Nila 69", yaitu nila yang diimport dari Taiwan pada tahun 1969. Di tahun 1982, muncul nila Gift (Genetic Improvement Former of Tilapia) dari Filipina. Selelah itu, mulailah munculnya strain-strain nila yang lain, seperti Citralada (Thailand) serta NIFI dan Get (Filipina). Sekarang, muncul pula nila Gesit, nila Nirwana, Nila Best, dan nila Larasati.
Memaksimalkan Budi Daya Nila, Perkembangan Teknologi Nila

Nila telah berhasil dikembangkan, baik pada tahap pembenihan maun pembesara. Pembenihan nila dapat dilakukan secara sederhana. Hanya dengan menebar induk di sebuah kolam, induk nila tersebut akan memijah dengan sendirinya. Demikian pula dalam tahan membesarkan, hanya dengan menebar benih serta memberi pakan, ikan nila akan tumbuh. Namun, jika pemeliharaan hanya dilaukan tidak maksimal, hasil yang didapatkan juga tidak akan maksimal.

Pada mulanya, pembenihan nila di lakukan pada lahan yang sempit, terutama dengan memanfaatkan lahan yang ada di sekitar rumah. Dengan menggunakan lahan rumah, pengontrolan terhadap ikan akan lebih mudah dilakukan. Namun, seiring dengan permintaan nila yang selalu meningkat, budi daya nila pun terus tumbuh berkembang dalam masyarakat. Yang pada akhirnya, lahan yang dipakai tidak hanya sebatas di sekitar rumah, tetapi meluas dengan menggunakan lahan-lahan lainnya, baik dengan membeli ataupun dengan sistem sewa lahan dari orang lain.

Ada pembenihan tentu ada pembesaran. Awal mulanya budi daya nilai yang di lakukan oleh seseorang mencakup semuanya, mulai dari pembenihan sampai pembesaran. Namun, karena pemikiran perputaran uang cepat, akhirnya sebagian besar memilih melakukan satu tahap budi daya saja, contohnya pembenihan atau pembesaran saja.

Pembesaran nila awalnya banyak diterapkan di kolam tanah. Namun, saat ini sudah banyak wadah yang bisa dimanfaatkan sebagai lahan untuk budi daya nila selain lahan yang berupa kolam tanah. Tambak dan kolam air deras misalnya. Tetapi. pembesaran di kedua wadah tersebut tidak dapat maksimal, walaupun memang cukup menguntungkan. Hal tersebut karena pemeliharaan yang dilakukan tidak diiringi denan teknologi dan pengelolaan yang tepat serta maksimal.

kolam jaring apung Usaha pembesaran nila semakin berkembang setelah dibangunnya beberapa waduk di berbagai daerah, seperti Waduk KEdung Ombo di Jawah Tengah serta Waduk Jatiluhur dan Waduk Cirata di Jawa Barat. Tidah hanya itu, seperti Danau Maninjau di Sumatera Barat, dan Danau Toba di Sumatera Utara. Di danau dan waduk tersebut, para pembudi daya menerapkan usaha pembesaran menggunakan kolam jaring apung atau di singkat dengan KJA.



Perkembangan Teknologi Nila


Berkaitan dengan banyaknya kendala teknis pada nila, para ahli perikanan mengupayakan berbagai macam cara supaya masalah tersebut dapat teratasi. Upaya itu dilakukan melalui berbagai program teknis. Meski hampir setiap program membutuhkan waktu yang cukup lama dan biaya yang lumayan besar, tetapi hasilnya akan memberikan manfaat yang besar bagi pembudi daya nila.

Salah satu hasil yang paling mengesankan adalah munculnya berbagai varietas nilai yang dimotori oleh ICLARM (INternational Center for Living Aquatic Resources Management). ICLARM adalah sebuah badan dunia yang berpusat di Filipina. Hasil dari penelitian tersebut adalah lahirnya nila GIFT (Genetic Improvement of Farm Tilapia. Selanjutnya mucul pula vairietas lainnya, yaitu nila GET (Genetically Enchanched Tilapia).

Para ahli perikanan Indonesia juga tidak ketinggalan. Berbagai macam penelian yang dilakukan telah melahirkan berbagai strain baru nila. Sebu saja nila GESIT (Genetic Strain Indonesia Tilapia). Varietas ini merupakan hasil rekayasa genetik Pusat Pengembangan Induk Ikan Nila Nasional (PPIINN) yang berpusat di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi yang bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) serta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BBPT) Jakarta.

Selain nila GESIT, ada pula strain baru lainnya. Balai Penelitian Perikanan Air Tawar (Balaikanwar) mencetak nila BEST (Bogor Enchanched Stain Tilapia). Balai pengembangan Benih Ikan (BPBI) Wanayasa, Purwakarta dan Satuan Kerja Pengembangan Air Tawar (Satker PBAT)

 Ruang Penetasan dan Wadah Telur


Readmore → Memaksimalkan Budidaya Nila, Perkembangan Teknologi Nila

Saturday, November 19, 2016

Budidaya Itik atau Bebek Petelur

Budidaya Itik atau Bebek Petelur

Itik dikenal juga dengan istilah bebek. Nenek moyangnya berasal dari amerika utara merupakan itik liar (anas mocha) atau wild mallard. Terus menerus dijinakan oleh manusia hingga jadilah itik yang dipelihara sekarang yang disebutanas domesticus (ternakitik). Secara international ternak itik terpusat di Negara-negara Amerika Utara, Amerika Selatan, Asia, Inggris, perancis, Sedangkan di Indonesia, ternak itik terpusat di PulauJawa (legal, Brebes, dan Mojosari), Kalimantan (kecamatan Alabio Menurutjenisnya, itik dikelompokan tiga jenis, yaitu itikpetelur seperti Indian runner, khaki, campbel, dan puff, Itik pedaging seperti rouen, Muscovy, dan Cayuga, Itik Ornamental atau itikk kesayangan seperti East India, call, mandariun, blue, dan wood.


Jenis bibit unggul yang diternakan di Indonesia khususnya ialah jenis itik petelur, seperti itiktegal, itik khaki campbel, itik alabio, itik mojo sari, itikbali, dan itik-itik unggulan lainya yang merupakan produkdari BPT(Balai Penelitian Ternak).

Persiapan Kandang

Ada tiga jenis kandang Itik Petelur:

Kandang Untuk Anak Itik (DOD) ada masa stater bisa disebut juga kandang Box, dengan ukuran 1 meter persegi mampu menampung 50 ekor DOD.

Kandang Brower (untuk itik remaja) disebut model kandang ren, atau kandang kelompok dengan ukuran 16-100 ekor perkelompok.

Kandang Layar (untuk itik masa petelur) modelnya bisa berupa kandang baterai (satu atau dua ekor dalam satu kelompok), bisa juga berupa kandang lokasi ( kelompok) dengan ukuran setiap meter persegi 4-5 ekor itik dewasa(masa bertelur atau untuk 30 ekor itik dewasa dengan ukuran kandang 3x2 meter).

Kondisi kandang tidak harus dari bahan yang mahal, tetapi cukup sederhana asal tahan lama dan kuat. Untuk perlengkapannya berupa tempat makan, tempat minum, dan mungkin perlengkapan tambahan lain yang bermaksud positif dalam manajemen


Sanitasi dan tindakan preventif. Sanitasi mutlak diperlukan dalam pemeliharaan itik dan tindakan preventif (pencegahan penyakit)perlu diperhatikan sejakdini untuk mewaspadaitimbulnya penyakit.

Pengontrol Penyakit. Dilakukan setiap saat dan secara hati-hati serta menyeluruh. Cacat dan tangani secara serius bila ada tanda-tanda kurang sehat pada itik.

Pemberian Pakan. Pemberian pakan itik diberikan dalam tiga fas, yaitu fase stater (umur 0-8 minggu), fase grower(umur 8-18 minggu), dan fase layar (umur 18-27 minggu). Paka ketigafase tersebut berupa pakan jadi dari pabrik (secara praktisnya) dengan kode masing-masingfase.

Cara membagi makan tersebut terbagi kedalam empat kelompok yaitu:
  1. Umur 0-16 hari diberikan pada tempat pakan daftar (tray feeder)
  2. Umur 16-21 hari diberikan diberikan denga tray feeder dan sebar di lantai.
  3. Umur 21 hari sampai 18 minggu disebar di lantai.
  4. Umur 18 minggu , 72 minggu ada dua cara , yaitu 7 hari pertama secara pakan peralihan dengan secara ad libitium (terus menerus).

Dengan pengawetan, Nilai ekonornis telur itik akan lebih lama dibandingkan dengan tidak melakukan pengawetan. Telur yang tidak diberi perlakukan pengawetan hanya dapat bertahan selama 14 hari jika disimpan pada temperatur bahkan akan segera membusuk.

Ada 5 perlakuan pengawetan terhadap telur Itik:
  1. Pengawetan dengan air hangat. Pengawetan dengan air hangat merupakan pengawetan telur itik yang paling sederhana. Dengan cara ini telur dapat bertahan hingga 20 hari.
  2. Pengawetan telur dengan daun jambu biji. Perendaman telur dengan daun jambu biji dapat mempertahankan mutu telur selama kurang lebih satu bulan. Telur yang sudah direndam akan berubah warna menjadi kecoklatan seperti telur pindang.
  3. Pengawetan telur dengan minyak kelapa. Pengawetan in merupakan pengawetan yang praktis. Dengan cara ini warna kulit telur dan dan rasanya tidak berubah.
  4. Pengawetan telur dengan Natrium silikat. Bahan pengawetan natrium silikat merupakan cairan kental, tidak berwarna dan jernih serta tidak berbau. Natrium silikat dapat menutupi pori kulit telur sehingga telur awet dan tahan lama hingga 1,5 bulan . Adapun caranya dengan merndam telur dalam larutan natrium 10% selam satu bulan.
  5. Pengawetan telur dengan garam dapur. Telur direndam dalam larutan garam dapur dengan konsentrasi 30-40% selama 3 minggu.

Readmore → Budidaya Itik atau Bebek Petelur

Monday, November 14, 2016

Mengetahui Komponen Penting Dalam Pembuatan Mesin Tetas Telur Secara Mandiri

Komponen Dalam Mesin Tetas

Sama halnya dengan karakteristik mesin pada umumnya, begitu juga dengan mesin tetas telur, mesin ini bekerja atas dasar sistem yang dibangun dari beberapa komponen penyusun. Komponen untuk pembuatan mesin tetas sendiri meliputi sumber panas, pengatur suhu, pengatur kelembapan, wadah telur, serta ruangan penetasan. 

Untuk lebih jelasnya mari kita bahas satu persatu komponen pembuatan mesin tetas.

 

a. Sumber Panas

Agar Embrio di dalam telur bisa berkembang dan menetas dengan sempurna maka membutuhkan suhu lingkungan yang hangat. Adapun sumber panas secara alami bisa berasal dari tubuh sang induk, jadi penetasan alami berlangsung dengan cara pengeraman oleh induk betina. Lain halnya dalam penetasan menggunakan mesin tetas, suhu hangat diperoleh melalui sumber panas atau alat pemanas yang terdapat di dalam mesin.

Sumber panas merupakan komponen penting pada mesin tetas. Panas yang dihasilkan harus merata ke seluruh ruang penetasan dan diterima oleh permukaan telur. Panas yang tidak merata atau kurang dari suhu yang dibutuhkan akan mengakibatkan telur gagal menetas. Sebaliknya, apabila panas yang diterima telur terlalu berlebihan dapat mengakibatkan gejala embrio di dalam telur mati, atau bahkan menyebabkan telur meledak.

Beberapa jenis sumber panas yang biasa digunakan dalam mesin tetas di antaranya lampu minyak, lampu pijar, lampu listrik, atau pemanas buatan pabrik yang terbuat dari kawat nikelin. Pemilihan sumber panas dapat disesuaikan dengan kemampuan dan ketersediaannya di wilayah peternak.
Sumber Panas Penetasan Telur Lampu Minyak, Lampu Pijar, Lampu Listri atau Lampu Nikelin

Selain bisa digunakan untuk keperluan dalam penetasan telur, lampu juga merupakan sumber panas yang biasa digunakan oleh peternak skala rumah tangga.

Penggunaan sumber panas dapat dikombinasikan lebih dari satu jenis, seperti pada mesin tetas semi modern yang dirancang oleh Bapak Abdul Wakhid. Mesin tetas rancangannya biasanya menggunakan dua jenis sumber panas yaitu lampu minyak dan lampu pijar. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi apabila sewaktu-waktu salah satu sumber pemanas berhenti. Misalnya, saat kondisi minyak tanah langka, peternak dapat menggunakan lampu pijar sebagai sumber pemanas. Selain itu, penggunaan dua atau lebih sumber pemanas dapat mencegah mesin berhenti beroperasi di saat periode penetasan.

 

b.  Pengatur Suhu dan Kelembaban


Alat pengatur suhu berfungsi untuk mengatur tinggi rendahnya panas yang dihasilkan di dalam ruang penetasan dari sumber panas. Sistem kerja alat ini terbagi menjadi sistem manual dan otomatis. Kerumitan komponen pengatur suhu dan kelembapan (termoregulator) tergantung pada jenis mesin tetas. Pada mesin tetas dengan sumber pemanas lampu pijar atau kawat nikelin yang bekerja dengan sistem elektrik, termoregulator berupa termostat yang terdiri dari kapsul eter, baut pengatur dan switch tekan mikro.

Alat Pengukur Suhu dan dan Kelembaban

Termostat. Berfungsi sebagai alat pengatur suhu dan kelembaban pada mesin tetas

Pada mesin tetas tradisional biasanya alat yang digunakan masih manual. Sementara itu, pengatur suhu pada mesin tetas semi modern dan mesin tetas modern sudah menggunakan sistem otomatis, yaitu sumber panas dirangkai dengan termostat sehingga sumber panas akan menyala atau mati secara otomatis ketika suhu di dalam ruang penetasan berubah.

c. Ruang Penetasan dan Wadah Telur


Bagian dalam dari mesin biasanya berisi ruang penetasan dan wadah untuk menempatkan telur. Ruang penetasan terdiri dari berbagai macam bentuk. Ada ruang penetasan yang memiliki inkubator dan hatcher secara terpisah.

Inkubator merupakan bagian ruangan tempat meletakkan telur yang dilengkapi alat pemutar telur. Sementara itu, hatcher merupakan bagian yang tidak dilengkapi dengan alat pemutar. Secara fisik, tidak terdapat perbedaan signifikan antara keduanya. Sementara itu, pada mesin tradisional tidak ada bagian khusus inkubator maupun hatcher. Pasalnya, perputaran telur dilakukan secara manual menggunakan tangan.

Inkubator dan Hatcher

Inkubator dan Hatcher yang terdapat pada mesin tetas otomatis

Ukuran luas ruang penetasan disesuaikan dengan jumlah telur yang akan ditetaskan. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, untuk jenis mesin tetas tradisional dapat memuat hingga 200 butir telur. Mesin tetas semi modern memiliki kapasitas 1.000 - 1.200 butir telur. Selain itu, ada juga mesin tetas semi modern yang dibuat khusus untuk skala rumah tangga dengan kapasitas 200 - 1.000 butir telur. Sementara itu, mesin tetas otomatis atau mesin semi modern biasanya memiliki ruang penetasan berkapasitas lebih dari 5.000 butir telur.

Ruang penetasan dapat dibuat dari berbagai jenis bahan, mulai bahan yang mahal seperti alumunium hingga bahan yang sederhana seperti papan tripleks. Untuk tujuan penghematan, barang bekas seperti peti atau lemari bekas pun bisa digunakan sebagai ruang penetasan. Pemilihan bahan harus memperhatikan faktor keamanan dan jenis bahan yang digunakan. Hindari penggunaan bahan yang mudah terbakar atau lapuk sehingga daya tahan mesin tetas lebih awet dan perawatan komponen mesin dapat dilakukan dengan mudah.

Rak telur merupakan komponen penting pada mesin tetas karena kualitasnya ikut menentukan keberhasilan telur yang menetas. Jika rak telur tidak dibuat dengan baik, potensi telur yang gagal menetas akan lebih besar. Ditinjau dari syarat, model, dan fungsinya, terdapat tiga macam model rak telur, yaitu rak telur sederhana, rak telur lipat, rak telur dengan pengatur posisi atau pemutar, dan rak penyimpanan untuk anakan.

Wadah atau rak telur merupakan tempat untuk menyusun telur di dalam ruangan penetasan. Wadah untuk menyusun telurdapatterbuat dari berbagai macam bahan, seperti pelat alumunium atau rangka besi. Pada pemilihan bahan, karakteristik yang harus diperhatikan adalah pilih bahan yang mampu menghantarkan panas dengan baik dan merata kepada telur.

1. Rak Telur Sederhana

Rak model ini terbuat dari rangka kayu reng dan kawat nyamuk atau kawat patri dengan lubang berukuran 0,5 - 1 cm. Kelebihan rak telur sederhana adalah mudah dalam proses pembuatannya dan biaya murah. Model ini memungkinkan bagi anakan yang menetas untuk tetap berada di rak hingga penetasan telur terakhir.
Rak Telur Sederhana



2. Rak Telur Lipat
Rak telur lipat hampir sama dengan rak telur sederhana, tetapi pada rak ini telah dilengkapi bagian yang bisa dilipat seperti sekat pembatas. Fungsinya untuk membatasi dan menahan telur agar tidak bergeser atau bergerak selama di dalam mesin tetas. Bagian yang dapat dilipat biasanya terletak 10 cm di depan rak.

Rak Telur Lipat


3. Rak Telur dengan Pemutar
Berbeda dengan model rak telur lainnya, tempat dudukan telur terbuat dari bahan kawat rangka. Bagian dasar berupa kawat nyamuk yang disambung dengan solder. Lebar rangka umumnya disesuaikan dengan ukuran dan jumlah telur. Sementara itu, panel pembalik terbuat dari kayu reng yang dirangkai.

Rak Telur dengan Pemutar

d. Rak Penampungan
Rak penampungan biasanya hanya terdapat pada mesin yang memiliki rak lipat. Fungsi dari rak penampungan ini sebagai tempat penampungan sementara bagi anakan yang telah menetas. Bagian alas rak diatur agar tidak licin dengan cara menggunakan kawat yang berdiameter kecil agar kaki anakan tidak terperosok ketika keluar dari telurnya.

 

Perlengkapan Penetasan Telur


Perlengkapan penetasan terdiri dari alat pendukung kerja mesin dan peralatan untuk membantu penetasan. Komponen pendukung kerja ini sifatnya tidak mutlak harus ada dan kegunaannya bisa disubstitusi dengan memodifikasi mesin atau penerapan teknik tertentu.

 

a. Teropong Telur

Untuk mengetahui tingkat fertilitas telur yang disimpan dalam mesin tetas dibutuhkan alat teropong telur. Teropong telur bekerja dengan bantuan cahaya. Teknisnya, cahaya ditembakkan ke arah telur, lalu melalui teropong yang berbentuk silinder dapat terlihat tingkat perkembangan embrio di dalamnya. Telur yang fertil dapat terus berkembang. Sementara itu, telur yang embrionya terlihat mati dapat segera digantikan telur yang baru.

Terdapat berbagaijenis teropong telur, mulai dari teropong sederhana hingga teropong yang memiliki teknologi canggih, seperti teropong ZETA. Perbedaannya terletak pada jumlah telur yang dapat dilihat. Jika menggunakan teropong biasa hanya dapat memeriksa telur satu per satu. Namun, teropong ZETA mampu memeriksa telur dalam jumlah yang lebih banyak dalam satu kali pengamatan.

Peneropongan. Bertujuan untuk mengetahui fertilitas telur di dalam mesin tetas

Pemilihan Fertilitas Telur
Untuk menetaskan telur ayam atau bebek, tentunya telur yang akan ditetaskan adalah telur yang fertil atau dibuahi. Telur tanpa pembuahan atau tanpa adanya perkawinan dengan pejantan tidak mungkin bisa menetas. Kalau kita mempunyai peternakan sendiri, untuk mendapatkan telur tetas tentunya bukan hal yang sulit, karena kita mempunyai indukan yang kita ketahui jenis makanannya, perbandingan pejantan dan betinanya, apalagi kalau kita menggunakan perkawinan dengan sistem inseminasi buatan, kita akan lebih mudah mengetahui apakah telur itu dibuahi atau tidak. Walaupun jawaban yang lebih pasti dapat kita temukan ketika kita melakukan peneropongan setelah beberapa hari telur berada di dalam mesin tetas. Kebanyakan pedagang telur tetas, atau pedagang bebek mengatakan dapat mengetahui ciri-ciri telur tetas yang fertil atau dibuahi berdasarkan dari ciri-ciri fisik telur yang akan di tetaskan. Bahkan ada yang mengatakan dapat membedakan telur tetas yang berisi embrio jantan dan embrio betina. Secara logika hal ini sangat sulit untuk diterima, Mengingat isi di dalam telur adalah sekumpulan sel yang sangat kecil dan tidak dapat dilihat kasat mata. Bagaimana mungkin seseorang bisa mengetahui telur yang akan ditetaskan adalah telur yang fertil. Apabila ada seseorang yang dapat mengetahui secara pasti ciri-ciri telur yang fertil atau dibuahi, sudah dapat dipastikan orang tersebut akan mendapatkan pendapatan yang sangat banyak dari penjualan telur tetas. Ciri-ciri telur tetas yang fertil atau dibuahi oleh pejantan hanya dapat dilihat dengan cara peneropongan setelah telur berada dalam mesin tetas beberapa hari. Untuk mengetahui telur yang fertil atau tidak sebelum masuk ke dalam mesin tetas adalah hal yang susah diterima logika. Kita tidak bisa mengetahui ciri-ciri telur yang fertil, yang dapat kita lakukan adalah berusaha mendapatkan telur tetas dengan tingkat fertilitas yang tinggi. Supaya telur yang akan kita tetaskan mempunyai tingkat fertilitas yang tinggi, kita harus mengetahui beberapa hal seperti di bawah ini:

Telur Dari Hasil Perkawinan Apabila kita membeli telur tetas dari peternak, pastikan telur tetas yang kita beli merupakan telur tetas dari peternakan yang mempunyai pejantan dengan perbandingan yang ideal antara pejantan dan betina adalah 1:8. Dengan demikian maka telur yang kita tetaskan adalah telur yang dibuahi. Perhatikan Fisik telur. Bentuk fisik telur sangat berpengaruh pada fertilitas dan daya tetas telur itu sendiri. Usahakan membeli telur tetas dengan kerabang yang tidak terlalu tebal, memilih telur yang bersih, telur yang tidak retak,bentuk telur yang ideal. Kerabang telur yang terlalu tebal akan menyulitkan pada proses pecahnya kerabang telur waktu penetasan, Biasanya embrio mengalami kematian di dalam kerabang telur karena kesulitan memecah kerabang telur. Telur yang kurang bersih akan mudah dimasuki kuman-kuman bibit penyakit, mengingat kerabang telur memiliki pori-pori untuk pernafasan embrio yang ada di dalam telur. Telur yang retak sebaiknya jangan ditetaskan karena tidak akan bisa menetas. Bentuk telur yang ideal juga berpengaruh pada penetasan. Tetaskan telur-telur dengan bentuk yang ideal, tidak terlalu bulat juga tidak terlalu lonjong, tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil. Lama Penyimpanan Telur. Lama penyimpanan telur sangat mempengaruhi daya tetas telur. Telur yang disimpan terlalu lama akan membunuh embrio yang ada di dalamnya, dengan demikian maka telur tidak akan menetas. Lama penyimpanan telur tetas sebaiknya kurang dari 7 hari. Tanyakan kepada penjual telur, berapa lama telur tersebut disimpan. Semakin lama telur disimpan, maka fertilitas dan daya tetasnya akan menurun bahkan mendekati angka nol. Ciri-ciri telur yang fertil atau dibuahi hanya dapat diketahui dengan cara meneropongnya pada beberapa hari setelah telur berada pada mesin tetas. Kita tidak dapat mengetahuinya sebelum telur ditetaskan, meskipun telur itu berasal dari induk yang dikawini oleh pejantan, karena mata kita mempunyai keterbatasan dalam melihat sesuatu yang lebih kecil seperti contohnya sel telur. Kita hanya dapat mengusahakan supaya tingkat fertilitas telur lebih tinggi dengan daya tetas telur yang juga lebih tinggi. Sumber : http://pelajaranilmu.blogspot.co.id/2012/05/pemilihan-fertilitas-telur.html

 

b. Kipas


Kipas berfungsi untuk meratakan panas ke seluruh ruang penetasan agar suhu panas yang diterima telur merata. Kipas pemerata panas atau kipas ventilator ini dapat bekerja secara manual maupun otomatis. Keberadaan kipas sebenarnya tidak mutlak harus ada di dalam setiap rancangan mesin tetas. Pasalnya, peranannya dapat digantikan dengan teknik pengontrolan telur yang rutin dilakukan setiap hari. Karena itu, kipas biasanya hanya digunakan untuk mesin modern atau mesin dengan kapasitas penyimpanan yang besar.

Pada mesin tetas rancangan penulis, kipas ini tidak digunakan karena panas yang dihasilkan dari sumber panas sudah cukup merata ke seluruh ruangan. Selain itu, telur yang disimpan di dalam ruangan setiap hari dikontrol dan dibalik sehingga panas yang diterima merata pada seluruh permukaan telur. Namun secara teknis, kipas bisa ditambahkan pada rancangan mesin apabila memang diperlukan.

 

Tips Untuk Memprediksi Telur akan Jadi Bibit Jantan atau Betina


Apakah Telur Jadi Bibit Jantan atau Betina
Telur Jantan atau Telur Betina.

Cara Pertama :

Cara yang disarankan adalah melihat bentuk telur.  Kalau telur lonjong atau cungkup, maka kemungkinan jantan.  Kalau bentuknya bulat maka kemungkinan besar ia betina. Telur Jantan1Yang dimaksud telur lonjong adalah, membentuk titik pada ujung telur yang lonjong tersebut maka dia adalah bibit telur jantan.  Sedangkan yang cenderung bulat dia bakal menjadi telur betina.  Tingkat kepastian tidak dapat dipastikan.  Beberapa sumber mengatakan bahwa kepastiannya sekitar 70-80%.  Dengan kata lain, jika penentuan telur ditetapkan dengan cara ini, maka dari 10 telur yang dianggap betina, masih ada dua atau 3 telur dengan bentuk yang sama, tetapi jantan.



Cara Kedua :

Cara ini tidak ada dasar ilmiahnya juga.  Saya gunakan pendulum (bandul) seperti yang didapat dari beberapa referensi web site.  Untuk gampangnya saja, saya gunakan pendulum dengan menggunakan jarum jahit saja digantungJarum jahit1 di atas benang. Ibu jari dan telunjuk memegang ujung benang yang panjangnya sekitar 20 cm dan di bawahnya jarum menggantung.  Di bawah jarum diletakkan telur yang akan ditentukan jenisnya.  Apakah telur jantan dan betina. Jarak ujung jarum ke telur berkisar antara setengah sampai 2 cm.  Pandangan mata di arahkan ke arah jarum.  Jika kemudian jarum berayun di atas telur, maka itu berarti telur betina.  Jika jarum kemudian berputar searah jarum jam, maka itu telur jantan.  Apabila berputar berlawanan arah dengan arah jarum jam maka artinya telur tidak akan menetas. Tentu perlu latihan untuk menggunakannya.  Saya kerap lakukan dua kali.  Setelah berayun, saya stop agar jarum tidak bergerak (tentunya dengan perintah melalui pikiran pada bandul agar berhenti) , kemudian diminta “mulai” lagi.  Jarum akan bergerak kembali. Kalau dua kali coba hasilnya sama, maka saya anggap benar.  Kalau tidak, saya sisihkan telur yang dipilih.

Aneh tapi nyata, uji tebak terhadap telur yang dipilih hasilnya sama.  Saya lakukan pilihan beberapa telur jantan dan betina.  Lalu, saya minta rekan untuk memilihkan telur (terserah) mau ambil yang mana, yang jelas rekan akan memilih salah satu, yang jantan atau yang betina.  Yang penting, saya tidak tahu rekan tersebut akan memilih yang mana. Kemudian, saya cek kembali dengan jarum pendulum.  Hasilnya ternyata sama.  Yang teruji betina, kemudian dipilihkan ternyata jarum memang berayun-ayun di atas telur.  Sumber : https://limbahdanternak.wordpress.com/2013/05/17/menentukan-telur-dan-bibit-jantan-atau-betina/



Readmore → Mengetahui Komponen Penting Dalam Pembuatan Mesin Tetas Telur Secara Mandiri

Sunday, November 13, 2016

Jenis Mesin Tetas, Mesin Tetas Tradisional, Mesin Tetas Semi Otomatis dan Mesin Tetas Otomatis

Jenis Mesin Tetas 


Mesin tetas dapat dibedakan menjadi tiga jenis berdasarkan sistem kerja, kapasitas, dan kelengkapan komponennya, yaitu mesin tetas tradisional, mesin tetas semi modern atau semi otomatis, dan mesin tetas otomatis atau modern. 

Mesin Tetas Tradisional

Mesin tetas tradisional bekerja dengan sistem yang masih sederhana. Sebagian besar mesin tetas tradisional hanya terdiri dari ruangan atau wadah untuk menempatkan telur dan sumber panas tanpa tambahan perlengkapan komponen lainnya. Mesin tetas tradisional sangat cocok untuk skala produksi kecil atau rumah tangga. Kapasitas mesin tetas tradisional biasanya hanya sekitar 200 - 500 telur per unit. Sumber panas biasanya berasal dari bahan yang sederhana dengan biaya terjangkau, seperti lampu minyak atau petromak yang berbahan bakar minyak tanah atau tungku api yang berbahan bakar sekam. Sistem pengontrolan terhadap kualitas telur masih dilakukan secara manual dengan membuka tutup ruang penetasan yang diperiksa setiap hari. Selain itu, proses perputaran telur juga masih dilakukan secara manual menggunakan tangan.

b. Mesin Tetas Semi Otomatis 

Mesin Tetas Semi Otomatis

Mesin semi otomatis merupakan pengembangan dari mesin tetas tradisional. Mesin ini bekerja dengan sistem yang sederhana, tetapi namun lebih unggul dari sisi penggunaan komponen dan perlengkapannya dibandingkan dengan mesin tetas tradisional. Selain itu, kapasitas mesin tetas semi otomatis atau semi modern umumnya lebih besar dibandingkan dengan mesin tetas tradisional, sekitar200 - 700 telur. Bahkan, banyak peternak yang menggunakan mesin semi otomatis dengan kapasitas yang lebih besar, yaitu 1.000 - 1.200 telur per unit. Mesin semi otomatis biasanya sudah dilengkapi dengan alat pengatur suhu dan kelembapan. Sumber panas yang digunakan umumnya berupa lampu listrik. Namun, ada juga mesin tetas semi otomatis yang lebih lengkap dan sudah memakai pemanas kawat nikelin buatan pabrik. Selain itu, wadah telur mesin semi otomatis biasanya sudah dipasangi tuas pemutar yang bekerja secara manual. 

c. Mesin Tetas Otomatis 


Mesin Tetas Otomatis
Mesin tetas otomatis atau mesin tetas modern memiliki sistem kerja dan kelengkapan komponen yang lebih mutakhir dibandingkan dengan mesin tetas tradisional dan semi otomatis. Perbedaannya dapat terlihat pada kelengkapan komponen mesin, pada mesin tetas otomatis sudah terdapat alat pengatur suhu dan kelembapan yang bekerja secara otomatis. Selain itu, bagian dalam mesin tetas sudah terdapat pembeda antara hatcher (bagian yang dilengkapi pemutartelur) dan inkubator. Mesin tetas otomatis biasanya memiliki kapasitas 1.000 hingga lebih dari 5.000 butir telur per unitnya. Pada wadah telur mesin tetas modern sudah terdapat hatcher yang bekerja secara otomatis. Banyaknya kecanggihnn mesin ini tentu harganya lebih mahal dibandingkan dengan dua jenis mesin lainnya. Sebuah mesin tetas otomatis yang terdapat di gudang milik salah satu kelompok peternak binaan penulis harganya dapat mencapai Rp12.000.000— Rp20.000.000 per unit. Meskipun teknis operasional mesin tetas modern lebih praktis, tingginya biaya penyediaan jenis mesin tetas ini dikhawatirkan tidak dapat terjangkau oleh peternak lokal dengan skala usaha kecil atau rumah tangga. Karena itu, penulis menyarankan untuk para peternak kecil cukup menggunakan mesin tetas jenis tradisional dan semi modern.

Readmore → Jenis Mesin Tetas, Mesin Tetas Tradisional, Mesin Tetas Semi Otomatis dan Mesin Tetas Otomatis

Saturday, November 12, 2016

Penetasan Menggunakan Mesin Tetas dan Keunggulan Penggunaan Mesin Tetas

Penetasan Menggunakan Mesin Tetas


Sejak dahulu, inovasi teknologi untuk membantu penetasan telur telah dilakukan agar usaha penetasan telur dapat menghasilkan keuntungan bagi peternak. Salah satu inovasi yang kerap dilakukan oleh peternak adalah menggunakan indukan angkat. Metode ini dilakukan dengan cara menitipkan telur kepada indukan jenis yang lain. Misalnya, menitipkan telur ayam untuk dierami oleh indukan angsa atau entok. Namun, cara ini dinilai kurang efisien karena menambah beban penyediaan dan hanya mampu dilakukan oleh peternakan terpadu yang memiliki lebih dari satu jenis hewan ternak. 
Penetasan Alami

Metode lain yang banyak digunakan oleh peternak adalah penggunaan mesin tetas. Mesin tetas pertama kali digunakan di peternakan Amerika Serikat dan negara-negara Eropa sejak tahun 1990-an. Di negara tersebut, produksi menggunakan mesin tetas sudah dilakukan pada level skala industri yang diproduksi dalam jumlah yang besar.

“Awalnya, mesin tetas hanya berupa sebuah ruang yang dimodifikasi agar tercapai suhu dan kelembapan yang ideal untuk penetasan.” Di Indonesia, penggunaan mesin tetas sebenamya sudah dirintis sejak tahun 1985. Bapak Abdul Wakhid bersama (Aim.) Prof. Achyar pakar di bidang peternakan saat itu merupakan segelintir orang yang pertama kali mempopulerkan penggunaan mesin tetas untuk meningkatkan produktivitas unggas di kalangan para peternak, khususnya unggas itik yang banyak dikembangkan di daerah Bapak Abdul Wakhid Berada.

Mesin Tetas Buatan

Mesin tetas awalnya dirancang secara sederhana dengan meletakkan pemanas atau sumber panas yang disertai pengontrol suhunya di dalam sebuah ruang kotak mirip lemari. Suhu panas yang dihasilkan di dalam ruang ini terbukti dapat membantu meningkatkan persentase keberhasilan penetasan hingga 70 - 80%. Keberhasilan ini mendorong peternak lokal untuk mulai menggunakan mesin tetas dalam membantu penetasan telur unggas milik mereka.

Penggunaan mesin tetas dilakukan dengan cara menyusun telur di dalam mesin tetas serta mengatur suhu dan kelembapan agar kondisinya sesuai dengan kebutuhan perkembangan embrio. Hasilnya, persentase keberhasilan penetasan akan lebih tinggi dibandingkan dengan penetasan melalui pengeraman alami. Suhu dan kelembapan merupakan parameter utama di dalam mesin tetas yang harus diperhatikan saat penetasan telur. Selain itu, kadar oksigen dan kadar karbon dioksida juga harus tetap diamati. Suhu optimal di dalam mesin tetas sekitar 37°-39° C dengan kelembaban 60-70%. Kadar oksigen dalam mesin tetas minimum 21% dan kadar karbon dioksida maksimum 0,5%.
Penggunaan mesin tetas memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan penetasan secara alami. Misalnya, ruang mesin tetas lebih luas dan lebar sehingga dapat menempatkan telur dalam jumlah lebih banyak daripada kapasitas pengeraman induk secara alami sehingga dapat meningkatkan keuntungan. Berikut berbagai keunggulan penetasan menggunakan mesin tetas dibandingkan dengan penetasan alami. 
  1. Tingkat keberhasilan telur yang menetas lebih besar dibandingkan dengan pengeraman biasa. Jika melalui proses pengeraman alami, telur yang menetas hanya 50 - 60%. Sementara itu, penetasan melalui bantuan mesin tetas dapat meningkatkan keberhasilan telur yang menetas hingga 80%. 
  2. Penetasan telur dapat dilakukan terus-menerus tanpa terganggu oleh cuaca. Pasalnya, telur di dalam mesin tetas ditempatkan di dalam ruangan. 
  3. Tingkat hidup anakan hasil penetasan melalui mesin tetas lebih tinggi dibandingkan dengan penetasan alami. Hal ini disebabkan karena perubahan suhu dari dalam telur ke lingkungan tidak terlalu ekstrim. Berbeda halnya dengan anakan hasil penetasan alami yang harus lebih menyesuaikan suhu setelah menetas. 
  4. Indukan dapat terus melakukan reproduksi tanpa perlu terganggu dengan kewajiban untuk mengerami telurnya. 
  5. Kontrol terhadap kualitas telur lebih mudah dilakukan. Selain itu, kontaminasi bakteri dan penyakit relatif lebih keeil karena telur disimpan di dalam ruangan. 
Artinya, penggunaan mesin tetas untuk membantu penetasan telur terbukti menguntungkan sehingga mampu meningkatkan pendapatan peternak. Karena itu, saat ini banyak para peternak beralih menggunakan mesin tetas sebagai alat untuk menetaskan telur.

Penggunaan mesin tetas relatif belum seluruhnya dapat dijangkau oleh para peternak skala kecil. Mahalnya harga mesin tetas membuat peternak memerlukan alternatif lain dengan cara merancang mesin tetasnya sendiri. Namun, hingga saat ini belum ada standar atau acuan pokok untuk merancang mesin tetas yang baik sehingga peternak lokal masih kesulitan. Berdasarkan permasalahan tersebut melalui artikel ini admin mencoba membagi ilmu yang di kutib dari karyanya Bapak Abdul Wakhid kepada para peternak dan pembaca mengenai teknik merancang mesin tetas sederhana secara praktis dan mengoptimalkan manajemen penetasan telur yang benar.

Readmore → Penetasan Menggunakan Mesin Tetas dan Keunggulan Penggunaan Mesin Tetas

Friday, November 11, 2016

Peluang Usaha Penetasan Telur bagi Peternak Unggas

Mesin Tetas Adalah Solusi Bagi Para Peternak Unggas


Pada artikel sebelumnya sudah dijelaskan Budidaya Ayam Petelor, nah untuk kelanjutnya perlu juga di ketahui bagaimana cara penetasan telor yang efektif dengan menggunakan teknik pakai mesin tetas, yuk simak uraian selanjutnya.

Penggunaan Mesin Tetas Bisa Jadi Peluang Usaha serta Bisa Meningkatkan Keuntungan Bagi Peternak

Penetasan Telur dan Masalah Yang Bisa Terjadi


Reproduksi adalah suatu proses alami untuk setiap makhluk hidup, termasuk juga dalam hal ini jenis unggas yang banyak dibudidayakan sebagai hewan ternak di Indonesia. Secara alamiah jenis hewan sebangsa unggas dalam melakukan reproduksi dengan cara menghasilkan telur. Setelah menjalani proses perkawinan antara indukkan jantan dan betina, dalam waktu tertentu indukan betina akan mengeluarkan telur hasil dari pembuhannya. Maka telur inilah nantinya yang akan menjadi anak setelah melalui proses penetasan baik secara alami ataupun dengan cara memakai mesin tetas.
Penetasan Telur Menjadi Anakan
Banyaknya telur yang di hasilkan dari setiap jenis unggas bervariasi. Misalnya ayam pada umumnya menghasilkan telur 14 - 21 butir setiap kali masa bertelur dengan asumsi setiap hari menghasilkan satu butir telur. Lain halnya dengan burung merpati yang hanya menghasilkan 2 butir telur dalam masa periode bertelur. Untuk jenis itik, biasanya menghasilkan telur 2 - 3 butir per tiga hari.

Secara alami, induk betina akan mengerami telurnya selama periode tertentu hingga menetas menjadi anakan. Proses penetasan ini disebut juga dengan pengeraman. Adapun masanya berbeda-beda tergantung dari setiap jenis unggas. Semakin besar telur yang dihasilkan maka semakin lama proses pengeramannya sampai menetas jadi anakan.

Pengeraman Secara Alami dilakukan induk betina hingga anakan menetas

No. Jenis Unggas Lama Pengeraman
1 Puyuh 16 Hari
2 Ayam 21 Hari
3 Bebek 28 Hari
4 Entok 35 Hari
5 Soang 40 Hari
6 Burung Unta 60 Hari
Dalam penetasan telur perlu juga diketahui syarat lingkungan yang tepat untuk proses penetasannya. Faktor yang paling penting dalam proses penetasan telur diantaranya suhu dan kelembaban. Embrio akan berkembang cepat apabila suhu lingkungan lebih dari 32,22 Derajat Celsius dan kelembaban di atas 60%. Sebuah Embrio akan berhenti berkembang jika suhu kurang dari 26,66 Derajat C.

Setelah mengalami pengeraman, telur akan menetas menjadi anakan. Anakan unggas yang berumur satu hari dikenal dengan istilah day old duck atau day old chick. Anakan ini akan disapih oleh induknya selama 1—2 bulan hingga anakan dapat hidup secara mandiri. Proses alami ini berlangsung hampir pada semua jenis unggas dengan periode yang berbeda-beda.

Day Old Duck. Merupakan sebutan umum bagi anakan itik yang baru lahir
Masalah utama dalam penetasan telur secara alami terletak pada keterbatasan jumlah telur yang dapat dierami oleh indukan. Misalnya, indukan ayam hanya mampu mengerami sebanyak 20 - 40 butir dari 100 telur yang dihasilkan setiap periodenya. Sementara itu, indukan itik umumnya hanya mampu mengerami 40% dari total jumlah telur yang dihasilkan.

Jika hanyn mungnndalkan pengeraman secara alami, persentase keberhasilan telur yang menetas hanya sekitar 50 - 60%. Kegagalan ini dapat disebabkan karena ketidakstabilan kondisi lingkungan yang mengakibatkan embrio di dalam telur tidak berkembang dengan sempurna.

Dalam usaha peternakan, proses penetasan telur merupakan suatu hal yang sangat penting untuk menjaga kelangsungan usaha. Telur atau anakan yang dihasilkan dari hasil penetasan masing-masing memiliki nilai jual tersendiri di pasaran. Menurut sebagian pebisnis atau peternak, membeli telur dan menetaskannya sendiri merupakan cara yang paling cepat dan paling menguntungkan dalam usaha peternakan. Selain dapat memilih segmen usahanya, kita juga dapat mengontrol kualitas telur yang ditetaskan hingga menjadi anakan unggul.

Usaha Penetasan Telur


Peluang usahanya masih terbuka lebar dan relatif menguntungkan

Apabila proses pengeraman alami mengalami kendala yang disebabkan masalah indukan dan lingkungan dapat mengakibat kan kerugian bagi peternak karena risiko telur yang gagal menetas menjadi besar. Karena itu, perlu adanya inovasi untuk membantu penetasan telur agar memberikan keuntungan bagi peternak.

Simak Selanjutnya tentang Penetasan Menggunakan Mesin Tetas

Readmore → Peluang Usaha Penetasan Telur bagi Peternak Unggas